Aktivitas Gunung Berapi Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda terus meningkat

Aktivitas Gunung Berapi Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda terus meningkat

Posted by MisterSeekers.com
20 February 2019

Public Relations BNPB, Status Anak Gunung Krakatau Menjadi Lansiran Peringatan 3
  Aktivitas gunung berapi Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda terus meningkat 

* STATUS ANAK GUNUNG DI SUNGAI (LEVEL III), RADIUS BERBAHAYA DIBUTUHKAN UNTUK MENJADI 5 KM *

Aktivitas gunung berapi Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda terus meningkat. Untuk itu, PVMBG dari Kementerian Gelologi ESDM telah meningkatkan status Gunung Anak Krakatau dari Waspada (Level II) menjadi Alert (Level III), dengan zona bahaya diperpanjang dari 2 kilometer menjadi 5 kilometer. Orang-orang dan turis dilarang melakukan kegiatan dalam radius 5 kilometer dari puncak kawah Gunung Anak Krakatau. Peningkatan status Siaga (Level III) ini berlaku mulai dari 27/12/2018 pukul 06.00 WIB.

Berdasarkan data PVMBG, Gunung Anak Krakatau aktif kembali dan memasuki fase letusan mulai Juli 2018. Letusan selanjutnya adalah letusan Strombolian, yang merupakan letusan disertai dengan lemparan lava pijar dan aliran lava pijar dominan ke arah tenggara. Erupsi yang sedang berlangsung berfluktuasi.

Pada 22/12/2018 terjadi letusan tetapi dicatat sebagai skala kecil, dibandingkan dengan letusan pada periode September-Oktober 2018. Hasil analisis gambar satelit dikenal sebagai lereng barat-barat daya runtuh dan longsoran memasuki laut. Inilah kemungkinan yang memicu tsunami.

Sejak 12/22/2018, letusan jenis Surtseyan diamati, yaitu alira lava atau magma yang keluar dari kontak langsung dengan air laut. Ini berarti volume pelepasan magma yang dilepaskan meningkat dan lubang kawah membesar. Mungkin ada lubang kawah baru yang dekat dengan permukaan laut. Sejak itu letusan berlangsung tanpa jeda. Suara letusan terdengar beberapa kali per menit.

Saat ini aktivitas erupsi masih berlangsung, yaitu dalam bentuk letusan Strombolian disertai dengan lemparan lava pijar dan awan panas. Pada 12/26/2018 terjadi letusan awan panas dan Surtseyan. Awan panas ini telah menghasilkan hujan abu. Angin dominan mengarah ke barat daya sehingga abu vulkanik menyebar ke barat daya ke laut. Kehadiran beberapa lapisan angin pada ketinggian tertentu yang mengarah ke timur menyebabkan hujan abu vulkanik tipis jatuh di kota Cilegon dan sebagian lagi menyerang pada 12/26/2018 sekitar pukul 17:15 WIB. Ini tidak berbahaya. Abu vulkanik sebenarnya menyuburkan tanah. Masyarakat mengantisipasi menggunakan topeng dan kacamata saat bergerak ke luar saat hujan abu.

Pengamatan Gunung Anak Krakatau selama 27/12/2018 pukul 00.00 - 06.00 WIB, letusan Gunung Anak Krakatau masih berlangsung, tremor terus menerus dengan amplitudo 8-32 milimeter (dominan 25 milimeter), dan suara dentuman terdengar .

PVMBG merekomendasikan bahwa orang dan wisatawan dilarang melakukan kegiatan dalam radius 5 km dari puncak kawah karena mereka sangat terpengaruh oleh letusan dalam bentuk batu pijar, awan panas dan abu vulkanik yang tebal. Dalam radius 5 km tidak ada pemukiman. Sementara itu, BMKG merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan kegiatan di pantai dengan radius 500 meter hingga 1 kilometer dari pantai untuk mengantisipasi tsunami berikutnya. Tsunami yang menimbulkan tanah longsor akibat letusan Gunung Anak Krakatau.

Orang didorong untuk tetap tenang dan meningkatkan kesadaran mereka. Selalu gunakan informasi dari PVMBG untuk peringatan dini gunung berapi dan BMKG tentang peringatan dini tsunami sebagai lembaga resmi. Jangan percaya pada informasi yang menyesatkan yang sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan.

* Sutopo Purwo Nugroho *
Kepala Pusat Informasi Data dan Hubungan Masyarakat BNPB